Ust. Anwar +62 857-1419-9381

PERGESERAN MAKNA

"Bahasa sebagai alat untuk mengartikulasikan pikiran"

Dalam kehidupan sehari-hari tentunya manusia tidak lepas dari apa yg dinamakan interaksi, karena memang fitrah manusia sebagai mahluk sosial. Ada banyak cara manusia berinteraksi baik secara verbal maupun non verbal dan kemampuan interaksi tersebut dinamakan bahasa (secara istilah disebut bahasa). Dalam ilmu bahasa (Linguistik), konsep dilambangkan dengan kata dan kata dalam arti pengertian dinamakan term. Seiring perkembangan zaman banyak penggunaan kata (term) dalam suatu kalimat sudah tidak lagi disiplin pada makna kata yang sesungguhnya atau sering disebut miskonsep sebagai contoh;
Kekerasan terhadap anak tidak sama dengan kekejaman terhadap anak,
tetapi banyak yang mengartikan kekerasan sama dengan kekejaman.
Kalimat tersebut mengalami ambiguitas dalam penafsiranya, ambiguitas dalam kalimat bisa disebabkan karena beberapa faktor bisa dari struktur kalimat yang tidak tepat, perbedaan makna secara konotatif maupun denotatif atau bisa jadi dalam penafsiran, si penafsir terpengaruh oleh makna yang keliru terhadap suatu kata.

Menurut Sabrang Mowo Damar Penuluh, Kata memiliki resolusi sangat rendah dalam menjelaskan suatu konsep dan setiap kata memiliki limitasi, sehingga tidak bisa mengakses langsung pada spesifik informasi yang dimaksudkan misalnya: kata hujan, "hujan" memiliki resolusi sangat rendah ketika dipahami sesuai definisi aslinya (KBBI: Hujan adalah titik-titik air yang berjatuhan dari udara karena proses pendinginan). Sebagai contoh:
A : Kenapa kamu tidak datang ke rumahku?
B : Di sini Hujan
Sedangkan kondisi sebenarnya hanya gerimis dan memungkinkan untuk datang kerumah si"A" tanpa basah kuyup. Sepintas memang tidak ada yang salah dengan alasan si "B", tetapi si "A" sebagai penafsir bisa saja salah dalam memahami alasan si "B" karena gambaran hujan si "A" dan si "B" jelas berbeda tergantung asosiasi pikiran mereka terhadap suatu konsep (kata).

Penggunaan kata akan memiliki tingkat yang lebih presisi pada satuan informasi jika diletakan pada suatu kalimat dan informasi pada kalimat juga akan lebih presisi jika diletakan pada suatu paragraf dan begitu seterusnya.

Dari contoh tentang pergeseran makna, bisa dibilang individu yang kurang disiplin terhadap konteks penggunaan bahasa memiliki tingkat pemahaman yang cenderung rendah atau bahkan mengalami reduksi. maka dari itu diperlukan upaya yang bersifat individu pula untuk membenahi kerancuan tersebut. Ada beberapa langkah awal yang dapat dicoba dan mungkin bisa efektif seperti membiasakan dalam penggunaan kalimat harus lengkap strukturnya, ketepatan dalam memilih diksi, ketepatan dalam menggunakan definisi dan memahami bahasa secara komprehensif, sehingga dalam praktis penggunaan bahasa di kehidupan sehari hari akan lebih disiplin pada makna sesungguhnya. Tentunya upaya tersebut sangat bisa terwujud jika 2/3 waktu hidup kita digunakan untuk belajar dan membaca.
So, jangan habiskan hidupmu di depan gadget ya gaes:)

Adjie Mas Diyan Nugroho